Senin, 18 Januari 2010

POSDAYA SEBAGAI MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga) merupakan suatu forum silaturahmi, advokasi, komunikasi, informasi, edukasi dan sekaligus bisa dikembangkan menjadi wadah koordinasi kegiatan penguatan fungsi-fungsi kekeluargaan secara terpadu. Penguatan fungsi-fungsi utama tersebut diharapkan memungkinkan setiap keluarga makin mampu membangun dirinya menjadi keluarga sejahtera, keluarga yang mandiri dan keluarga yang sanggup menghadapi tantangan masa depan dengan lebih baik. Dapat dikatakan bahwa Posdaya merupakan wahana pemberdayaan 8 fungsi keluarga secara terpadu, utamanya fungsi agama atau ketuhanan yang maha esa, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi dan kesehatan, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi atau wirausaha dan fungsi lingkungan.

Posdaya adalah sebuah gerakan dengan ciri khas “bottom up program”, yang mengusung kemandirian, dan pemanfaatan sumberdaya serta potensi lokal sebagai sumber segala solusi. Posdaya dikembangkan sebagai salah satu sarana meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang hanya bisa diharapkan melalui penguatan fungsi keluarga secara terpadu. Kini Posdaya terus menjangkau berbagai pelosok desa di Tanahair. Banyak bupati atau walikota kini ramai-ramai mendorong anggota masyarakatnya untuk mendirikan dan mengembangkan Posdaya. Posdaya dapat dikembangkan di mana-mana, bahkan juga dalam lingkungan komunitas masjid.

Tujuan pembentukan posdaya adalah untuk menyegarkan modal sosial, seperti hidup bergotong-royong dalam masyarakat guna membantu pemberdayaan keluarga secara terpadu dan membangun keluarga bahagia dan sejahtera. Selain itu, posdaya juga ikut memelihara lembaga sosial kemasyarakatan yang terkecil, yaitu keluarga, agar dapat menjadi perekat sehingga tercipta kehidupan yang rukun, damai, dan memiliki dinamika yang tinggi. Bahkan program posdaya itu diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada setiap keluarga untuk memberi atau menerima pembaharuan yang dapat dipergunakan dalam proses pembangunan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Posdaya merupakan gagasan baru guna menyambut anjuran pemerintah untuk membangun sumberdaya manusia melalui partisipasi keluarga secara aktif. Proses pemberdayaan itu diprioritaskan pada peningkatan kemampuan keluarga untuk bekerja keras mengentaskan kebodohan, kemalasan dan kemiskinan dalam arti yang luas. Sasaran kegiatan yang dituju adalah terselenggarakannya upaya bersama agar setiap keluarga mempunyai kemampuan melaksanakan delapan fungsi keluarga. Dalam rangka pelaksanaan Millenium Development Goals (MDGs), pengembangan fungsi keluarga tersebut diarahkan kepada lima prioritas sasaran utama, yaitu (1) komitmen pada pimpinan dan sesepuh tingkat desa dan pedukuhan, kecamatan dan kabupaten, (2) pengembangan fungsi keagamaan, fungsi KB dan kesehatan, (3) fungsi pendidikan, (4) fungsi kewirausahaan dan (5) fungsi lingkungan hidup yang memberi makna terhadap kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Rintisan awal Posdaya dilakukan oleh Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) bekerjasama dengan berbagai pihak seperti kalangan perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Jumlah Posdaya yang sudah dibentuk di Indonesia pada saat ini sekitar 5.155 Posdaya, dimana sebanyak 53 Posdaya di antaranya telah terbentuk di sekitar Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi. Pembentukan dan pengembangan Posdaya di wilayah tersebut didukung oleh Pusat Pengembangan SDM – LPPM IPB Bogor sejak tahun 2006 yang lalu. Pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat melalui Posdaya ini melibatkan berbagai pihak seperti Yayasan Damandiri, pemerintah daerah setempat, mahasiswa perguruan tinggi, dan perusahaan yang berminat melalui program CSR.


Belajar dari Pengalaman

Krisis ekonomi dan politik yang terjadi sejak akhir tahun 1997 telah menghancurkan struktur bangunan ekonomi dan pencapaian hasil pembangunan di bidang kesejahteraan sosial selama rezim Orde Baru (1967-1998). Salah satu penyebab terjadinya krisis tersebut adalah kenyataan bahwa meningkatnya angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi selama Orde Baru tidak benar-benar merefleksikan terjadinya pemerataan kesempatan dan perolehan kesejahteraan secara bermakna. Pembangunan ekonomi yang berorientasi pertumbuhan hanya melahirkan peningkatan kesejahteraan semu (pada sekelompok kecil orang yang sangat kaya), daripada yang secara riil dirasakan oleh mayoritas penduduk (penduduk miskin).

Peningkatan kualitas manusia sebagai sumber daya pembangunan merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki derajat kesejahteraan rakyat. Tujuan utama pembangunan millenium atau MDGs di Indonesia dengan prioritas pengentasan kemiskinan ditargetkan bahwa proporsi penduduk miskin pada tahun 2015 turun menjadi 8,2% dari jumlah penduduk. Keputusan itu merupakan tekad dan kebijaksanaan pemerintah yang perlu didukung semua instansi dan institusi pembangunan.

Agar upaya itu berhasil dengan baik perlu diikuti pengembangan gerakan pemberdayaan keluarga yang dilaksanakan secara intensif. Pembangunan ekonomi yang akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi perlu melibatkan partisipasi masyarakat agar pembangunan yang dilakukan seimbang dan mencapai sasaran. Pembangunan ekonomi harus diimbangi dengan peningkatan partisipasi sosial. Sosial advokasi juga perlu dilakukan agar komitmen pembangunan lebih kuat.

Mengacu pada kondisi bahwa berbagai program pengentasan kemiskinan yang dijalankan pada saat yang lalu kurang dapat menjalankan fungsi sesuai dengan yang diharapkan, maka salah satu potensi dan peluang untuk melakukan program pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan saat ini adalah melalui model pos pemberdayaan keluarga (Posdaya). Kegiatan pemberdayaan keluarga dengan sasaran keluarga miskin ini menekankan pada aspek pemberdayaan keluarga dalam mengentasan kemiskinan terutama empat bidang garapan, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan. Dengan wadah Posdaya memungkinkan dilakukan penerapan konsep pemberdayaan masyarakat khususnya bagi semua segmen usia dalam keluarga dalam upaya pembangunan sosial dan ekonomi keluarga untuk pengentasan kemiskinan warga masyarakat secara sistematis.


Kinerja Posdaya

Mengacu pada penelitian Muljono, Burhanudin dan Bakhtiar (2009) yang mengkaji tentang upaya pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan melalui model Posdaya, diketahui bahwa secara umum kinerja Posdaya di sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi termasuk kategori baik dimana Posdaya telah menghasilkan beberapa perubahan sebagai berikut :

  1. Posdaya mampu mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap bentuk-bentuk intervensi pembangunan. Semula mereka mempersepsikan setiap intervensi luar terhadap masyarakat selalu bermakna pemberian bantuan, khususnya bantuan materi/dana. Tetapi setelah mereka mengenal Posdaya, yang mengusung konsep keswadayaan, gotong royong dan kemandirian, mereka mulai memahami bahwa setiap intervensi luar ke masyarakat tidak selalu berkonotani pemberian bantuan khususnya bantuan dana. Intervensi dapat berupa kegiatan sosial, intervensi ide, nilai-nilai, cara kerja pemberdayaan dan sebagainya. Bahkan Posdaya juga mampu meningkatkan kepercayaan diri terhadap kemampuan diri warga bahwa mereka mampu berperan aktif untuk membangun. Selama ini warga pada umumnya lebih banyak berperan sebagai sasaran pembangunan, tetapi setelah terlibat dalam Posdaya, warga lebih banyak berperan sebagai perancang, pelaksana dan pengevaluasi program-program pembangunan di wilayahnya. Masyarakat menjadi lebih aktif karena Posdaya berfilosofi dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

  2. Posdaya mampu mendinamisasikan kehidupan masyarakat melalui meningkatnya partisipasi dan komitmen masyarakat dalam pembangunan. Sebelum adanya Posdaya, jumlah masyarakat yang terlibat dalam pembangunan, baik sebagai penerima/sasaran program maupun sebagai kader relatif sedikit. Setelah terbentuk Posdaya, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan layanan Posdaya maupun yang memberikan layanan kepada masyarakat melalui Posdaya. Selain itu, semakin banyak pula warga masyarakat yang mau menjadi kader Posdaya. Warga yang semula kurang aktif dan cenderung tidak peduli dengan lingkungan, kini mulai ”terusik” dengan keberadaan Posdaya. Saat ini partisipasi masyarakat lebih banyak berupa partisipasi tenaga dan waktu, bukan dalam bentuk dana atau materi. Hal ini bisa dipahami karena kondisi ekonomi sehari-hari yang relatif rendah.

  3. Kualitas keluarga-keluarga miskin yang ada di wilayah Posdaya mengalami perubahan yang cukup signifikan setelah ada Posdaya. Indikator perubahan kualitas tersebut antara lain: 1) Posdaya mampu mengubah mindset (cara pandang) gakin yang semula menilai rendah pendidikan menjadi gakin yang menilai penting pendidikan, 2) berani mengemukakan ide-ide perubahan pada saat musyawarah, 3) menilai penting kesehatan ditunjukkan dengan rutin mengunjungi posyandu, posbindu sebagai bagian kegiatan Posdaya, dan 4) jumlah balita kurang gizi berkurang.

  4. Mulai muncul kegiatan-kegiatan ekonomi di masyarakat, seperti munculnya usaha-usaha kecil di bidang pangan, kerajinan maupun jasa. Sebagai contoh usaha jus jambu biji merah, aneka keripik, budidaya jamur, keripik jamur, telur asin, cinderamata dan lain-lain. Usaha tersebut semula tidak ada, setelah ada Posdaya, warga tergerak untuk kreatif mencari tambahan penghasilan.

  5. Masyarakat mulai menilai penting menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dengan memulai upaya mengolah sampah rumah tangga menjadi kompos.

Harapan untuk Masa Depan

Berdasarkan analisis terhadap kinerja dan identifikasi masalah pengelolaan Posdaya yang terdapat di sekitar Bogor, Cianjur dan Sukabumi, maka dapat disusun berbagai rencana aksi pengembangan Posdaya untuk masa mendatang, antara lain: (1) perlu dilakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM pengurus/dan kader Posdaya, (2) perlu dilaksanakan resosialisasi Posdaya secara vertikal dan horizontal ke seluruh pihak, (3) membangun jejaring usaha produktif Posdaya untuk lebih memacu pertumbuhan usaha ekonomi masyarakat yang baru, (4) melakukan pembelajaran dan pemotivasian pengurus/kader Posdaya melalui kegiatan study banding dan bechmarking ke Posdaya lain, (5) merintis dan membangun koperasi Posdaya sebagai wadah kegiatan ekonomi masyarakat.

Untuk mengoptimalkan kinerja Posdaya dan demi tercapainya harapan tersebut di masa depan, maka partisipasi dari seluruh pihak dan berbagai komponen masyarakat sangat ditunggu. Semoga melalui forum Posdaya, upaya pemberdayaan masyarakat dan pengentasan kemiskinan di negara kita dapat terwujud secara bertahap dan sistemik

2 komentar:

  1. apakah model posdaya ini juga membangkitkan social capital?

    BalasHapus
  2. ya... model ini bisa membangkitkan social capital
    seperti kegotongroyongan

    BalasHapus